Opini ‘Dangkal’ Tentang Pembinaan Kampus


Pembinaan adalah hal yang paling krusial dalam pergerakan PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen)[1] di kampus. Hal inilah yang menjadi jaminan apakah PMK bergerak ke arah visi atau malah melenceng dari tujuan semula. Teori-teori dan teladan yang diterapkan secara turun menurun akan menentukan langkah pergerakan dan ‘kualitas’ para didikan dalam menghadapi dunia nyata.

Sejauh yang saya perhatikan selama saya menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra Unpad, bahkan sampai saat ini, metode (bentuk dan materi) yang digunakan dalam pembinaan cenderung terlalu tradisi. Artinya, PMK turun temurun mengikuti metode yang sama tanpa ada pembaruan yang signifikan meskipun beberapa kali analisis dan evaluasi telah dilakukan untuk menyikapi kelemahan-kelemahan serta ancaman yang seringkali menjadi pelengkap dalam sebuah pergerakan.

Pembinaan secara gamblang dirumuskan oleh PMK pada umumnya ke dalam sebuah pendampingan berupa kelompok PA (pendalaman Alkitab), kelompok kecil, komsel (komunitas sel), atau bahkan dalam lingkup yang lebih besar seperti persekutuan, seminar, dsb.

Bentuk-bentuk ini memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing namun relatif sama, yaitu pembinaan secara teori dengan konsep formal sebuah pertemuan antara pemberi materi dan adik-adik bimbingan rohani. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bentuk ini selalu efektif dalam pembinaan dan penjangkauan dengan mahasiswa yang tidak melulu sejiwa dengan hal-hal yang nampak rohani? Ada kelompok mahasiswa yang terbiasa dengan hal-hal yang berbau rohani atau bersedia dibimbing secara penuh oleh PMK, ada kelompok mahasiswa yang lebih memilih untuk dibimbing oleh Lembaga Gereja (LG), ada kelompok mahasiswa yang berfokus pada kuliah dan menganggap hal-hal di luar perkuliahan itu sebagai hal yang kurang penting, ada pula kelompok mahasiswa yang memang ‘anti’ dengan hal-hal yang berbau rohani, seolah enggan berlindung pada ‘kedok’ predikat rohani.

Dalam pembinaan kampus, untuk tipe mahasiswa pertama mungkin kendala penerapan metode di atas tidak sebesar untuk tipe mahasiswa kedua, ketiga, dan keempat. Salah satu hal yang terkadang menjadi penyempitan pandangan dalam hal ini adalah munculnya paradigma bahwa indikator keberhasilan pembinaan kampus adalah kuantitas dan sejauh mana materi dibahas dalam pertemuan-pertemuan PA tersebut. Alangkah baiknya jika bidang pembinaan di kampus juga menilik dan ikut mengevaluasi pertumbuhan mahasiswanya yang dibimbing di luar PMK, entah itu di LP atau LG tertentu, atau bahkan yang memilih bertumbuh dalam komunitas lainnya.

Selain itu, perlulah merumuskan metode lain yang efektif untuk menjangkau mahasiswa tipe ketiga dan keempat. Hanyalah penolakan yang akan diterima jika PMK memaksakan kedua tipe mahasiswa ini untuk mau dibimbing dalam bentuk pembinaan formal semacam PA. Tidak harus selalu dalam seminar atau pertemuan formal lainnya bukan, untuk membagikan materi secara teori dan teladan menyangkut pembinaan kepada seseorang? Contoh sederhana yaitu dimana seseorang membagikan pengalaman dan pengetahuannya kepada teman-temannya dalam sebuah diskusi ringan.

Materi-materi yang disampaikan pun cenderung berfokus pada character building. Tahun 2007 saya mulai bergabung dalam sebuah Lembaga Pelayanan (LP) dan mulai dibimbing dalam sebuah kelompok PA. LP ini menggunakan buku PA yang isinya melulu tentang character building, yang saya tahu tidak jauh beda dengan buku-buku PA yang digunakan oleh PMK-PMK dan LP-LP lain pada umumnya. Saya tidak mengatakan bahwa materi-materi ini tidak tepat atau kurang tepat; namun pemberatan materi ke satu sisi ini membangun paradigma bahwa seolah-olah cukuplah karakter baik yang telah dibangun tadi berfungsi sebagai garam dan terang dalam kehidupan nyata.

Membahas kedua hal tersebut (bentuk dan materi) kita harus menilik visi pemuridan atau pembinaan yang terangkum dalam amanat agung (Matius 28:19-20). Dalam amanat agung terdapat dua tugas pokok seluruh umat Allah; yaitu: (1) Memberitakan kabar baik dan (2) membimbing sesama untuk memiliki karakter serupa Kristus. Tentunya pembinaan kampus pun seharusnya mengarah pada dua hal ini. Materi-materi character building tadi tentunya sudah mengarah pada poin pertama mulai dari pengenalan tentang jaminan keselamatan dalam Kristus dan penerapan pembangunan karakter yang serupa Kristus (hidup baru). Hal ini tentu harus diimbangi dengan hal yang mengarah pada poin pertama.

Kedua poin di atas tentunya menjadi kewajiban seluruh umat Kristus, namun sayangnya persepsi yang terbentuk dalam masyarakat Kristiani tentangnya membentengi mereka dalam pergerakan menyangkut kedua hal ini. Banyak yang memiliki persepsi bahwa memberitakan kabar baik adalah melulu tentang memaparkan iman keselamatan dalam Kristus secara gamblang atau blak-blakan lalu meyakinkan orang lain untuk ikut meyakini apa yang mereka yakini tanpa mempertimbangkan penerimaannya oleh orang lain.

Ada yang berani mengambil segala resiko dengan iman atau mungkin kebodohannya. Ada pula yang terlalu berpikir rasional atau bahkan pengecut sehingga hanya memilih gaya bahasa non verbal seraya berharap integritas yang dimilikinya cukup dapat bersaksi pada orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Sedikit mengulas sejarah pergerakan KBK FIB Unpad, di tahun 1990-an sempat terjadi penginjilan secara ekstrim di kampus yang mengakibatkan penolakan secara besar-besaran terhadap KBK FIB yang pada saat itu masih bernama PMK FASA. Bagaimana tidak? Di tengah-tengah masyarakat yang umumnya dikenal beragama, sekelompok marginal berani bersuara lantang tentang imannya seolah menyatakan pemeluk iman lain salah.

Pemberitaan kabar baik lewat cara ini memang terkesan sangat ekstrim dan kurang bijak. Meski harus diakui bahwa tidak mustahil Allah juga turut bekerja dalam hal itu. Namun tetap, penyampaian yang seperti itulah yang seringkali memunculkan kesan bahwa pemberitaan kabar baik itu melulu tentang kristenisasi: satu anggapan lagi yang sama sekali tidak tepat.

Saya belajar bahwa bukan orang Kristen yang mendapat jaminan keselamatan, melainkan orang yang berserah sepenuhnya kepada Allah. Tidak peduli apa agama Anda. Orang yang berserah kepada Allah pastilah akan taat kepada segala perkataan-Nya (Firman-Nya). Yesus atau Isa dikenal oleh umat Kristiani sebagai Firman Allah atau Khalam Allah yang menjelma sebagai manusia (Yoh 1:14). Dengan segala ketaatan dan penyerahan-Nya, Yesus yang telah ditetapkan sejak semula untuk menjadi korban tebusan demi memperdamaikan hubungan Allah dengan manusia telah menerima kuasa (Ef 1:22) hingga Ia layak dijunjung sebagai Sang Tauladan.[2][3][4]

Mirisnya, begitu banyak kesalahpahaman menyebar kian membumbu dalam masyarakat. Berbagai faktor mulai dari kurang dalamnya penafsiran Injil, ‘non-adaptasi’ gereja/pemahaman dari Barat serta pra skeptisisme seringkali menimbulkan perpecahan serta penolakan dalam masyarakat. Salah lah jika ada persepsi yang menyatakan bahwa umat Kristiani menyembah tiga tuhan, Yesus adalah semata-mata manusia biasa namun disembah sebagai ilah, atau masih banyak kesalahpahaman lainnya.

Di sinilah seharusnya pembinaan diarahkan; yaitu melatih dan menanamkan tidak sekedar teori untuk menyampaikan kabar baik itu dengan bahasa yang dapat diterima oleh masyarakat dengan cara mempersempit atau bahkan mematahkan setiap kesalahpahaman yang selama ini menyebar di masyarakat.

Jujur saja, selama saya berkuliah di FASA Unpad saya tidak pernah mendapatkan pembinaan semacam itu. Sempat saya mengikuti sebuah kegiatan mission trip selama satu minggu di Madiun, yaitu semacam kegiatan pengenalan tentang pemberitaan kabar baik dalam masyarakat, di awal tahun 2009 yang diadakan oleh sebuah LP di mana saya sempat aktif. Sayangnya dari kegiatan ini saya baru bisa mendapatkan satu hal; yaitu bahwa passion memegang kunci awal krusial dalam memberitakan kabar baik.

Kegiatan ini cenderung memiliki pola yang sama dalam menerapkan pemberitaan kabar baik: kurang kontekstual. Penyampaian yang diawali oleh perbincangan-perbincangan bukan mengarah pada pencerahan pandangan atas kesalahpahaman yang ada yang dapat mengalir secara alami dan bukan karena dipaksakan; namun megarah pada kesan menggurui dan menghakimi meskipun awalnya tidak bermaksud demikian.

Itulah sebabnya mengapa saya mengatakan bahwa materi pembinaan yang umumnya berlangsung saat ini lebih timpang ke satu sisi. Character building memang merupakan hal yang krusial dalam membangun seseorang untuk tetap konsisten menjalankan amanat agung sesuai dengan panggilannya di bidangnya masing-masing namun juga harus diimbangi dengan pemahaman tentang pemberitaan kabar baik itu sendiri melalui penafsiran yang tepat yang dapat mempersempit kesalahpahaman yang ada.

Bolehlah seseorang berkata, “Tingkah laku kita harus menjadi terang supaya orang yang belum mengenal Yesus sebagai Firman Allah dapat memuliakan Allah.” Namun tidak cukup ‘sikap baik’ menggarami dan menerangi dunia dalam segala keterbatasannya. Baik itu relatif. Lagipula bukan hanya umat Kristiani yang boleh menyandang status itu. Kasarnya lagi, agama tidak menjamin sikap seseorang menjadi baik atau buruk.

Melihat kompleksnya permasalahan yang terjadi di dunia ‘nyata’, tentunya kita harus lebih cerdas dan bijak dalam menentukan arah pembinaan baik dalam PMK, LP maupun LG yang seringkali menjadi mitra pergerakan PMK. Dalam hal ini PMK menjadi bagian paling krusial dan seharusnya menjadi wadah paling efektif untuk mempersiapkan para mahasiswa membangun karakter serupa Kristus, mengenali panggilan hidupnya, untuk kemudian konsisten melangkah mencapai apa yang menjadi visi hidupnya.

Inti dari pembinaan bukan semata-mata tentang pembangunan karakter, tapi bagaimana dengan karakter yang sudah dibangun itu seseorang dapat dengan setia mengerjakan panggilan hidupnya.


[1] namanya bisa bermacam-macam; misalnya di FIKOM dinamakan IMKK (Ikatan Mahasiswa Kristen Katholik) atau sekarang (sejak 10 Maret 2012) di FASA (sekarang FIB atau Fakultas Ilmu Budaya) dinamakan KBK (Keluarga Besar Kristus.

About little mind

just a little man struggling to be a great man

One comment

  1. Thx untuk artikelnya.

    Di sini ada link untuk memahami pacaran Kristen yang benar, silahkan dilihat. Pasti akan memberkati Anda!
    http://datinginsightindonesia.wordpress.com

    Untuk melihat pembahasannya silahkan lihat link dibawah ini:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: