Lomba Jam Terbang


Setiap orang, berbicara di sini khususnya mahasiswa, sudah seharusnya memiliki visi atau pandangan jauh ke depan yang akan dicapai. Bahasa simpelnya, orang-orang biasa mengartikan visi sebagai suatu tujuan atau panggilan hidup. Maka dari itu tentu saja visi ini sangat berhubungan dengan dunia kerja atau dunia seusai mengenyam bangku pendidikan di universitas.

Di samping visi tentu saja mahasiswa juga punya segudang kegiatan selain kegiatan kuliah. Apalagi mahasiswa jaman sekarang, di mana berbagai organisasi baik dalam maupun luar kampus sudah tidak terhitung jumlahnya. Sederet unit kegiatan mahasiswa, organisasi keagamaan kampus, BEM, dan organisasi-organisasi kemahasiswaan lain di luar kampus seperti gereja, lembaga pelayanan, dan ormas lainnya bahkan berbondong-bondong merekrut para mahasiswa untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan mereka. Tak sedikit pula mahasiswa yang tertarik untuk mencoba aktif dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dalam ajang yang tiap tahunnya bisa menghabiskan uang puluhan juta rupiah itu.

Sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa seringkali kegiatan-kegiatan yang diambil tersebut tidak menunjang visi. Banyak mahasiswa yang tidak bijak dan menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan di berbagai organisasi tanpa mempertimbangkan keuntungan apa yang bisa mereka dapatkan dalam kaitannya dengan visi mereka. Hal ini biasanya disebabkan oleh anggapan mahasiswa pada umumnya bahwa masa kuliah adalah masa untuk bersenang-senang dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, juga karena kebanyakan mahasiswa belum tahu dan peduli tentang visi mereka. Seringkali juga mereka tidak memperhitungkan waktu dan tenaga yang sangat berdampak pada studi mereka. Banyak lho, mahasiswa yang dikenal bertanggung jawab dalam urusan organisasi namun kuliahnya keteteran. Banyak juga mahasiswa yang terlalu sibuk kuliah sehingga lupa mencari pengalaman dan mengembangkan kemampuannya. Coba tebak, di antara mereka berdua kira-kira siapa yang jam terbangnya lebih tinggi?

Kita seharusnya lebih jeli dalam menyikapi hal ini, mengingat bahwa hingga saat ini universitas-universitas di negara kita belum mampu menyediakan orientasi kurikulum yang sesuai dengan dunia kerja secara optimal. Hal ini sangat krusial khususnya bagi teman-teman yang kuliah di jurusan non eksakta (hukum, ilmu sosial, sastra), yang menurut hitungan BPS adalah kelompok mahasiswa yang lebih rentan menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari universitas. Sedikit banyak yang dilakukan universitas untuk menyikapi hal tersebut paling-paling hanya dalam menyelenggarakan seminar tentang dunia kerja dan menyediakan mata kuliah dengan SKS minimal tentang kewirausahaan. Dunia kerja sendiri saat ini lebih banyak menuntut kemampuan, pengetahuan dan pengalaman para pegawai sesuai dengan posisi kerjanya masing-masing dibanding sekedar ijasah dan IPK.

Melihat hal tersebut seharusnya setiap organisasi dan kegiatannya juga dapat menunjang visi mahasiswa secara khusus dalam kaitannya dengan dunia kerja (tentunya juga yang sesuai dengan visi masing-masing organisasi). Organisasi-organisasi (baik dalam maupun luar kampus) sendiri memang ada untuk memfasilitasi mahasiswa mengembangkan skill, personality, knowledge, experience, dan link mereka; namun sayang seringkali para aktivis beberapa organisasi terkecoh sehingga nilai-nilai yang justru harus ditumbuh kembangkan malah sedikit demi sedikit tertutupi dengan istilah yang biasa disebut ‘kebersamaan’. Istilah ini biasanya justru lebih disoroti sebagai objek pengurasan aliran dana tahunan tanpa melirik kegiatan lain yang dapat membantu mahasiswa mengenali visi dan mengembangkan skill dan knowledge mahasiswa dalam kaitannya dengan dunia kerja. Memang tidak semua organisasi seperti ini. Sudah banyak juga kok organisasi kampus yang memfasilitasi pengembangan nilai-nilai di atas.

Secara keseluruhan, yang memiliki andil dalam hal ini adalah mahasiswa yang bersangkutan. Jika ia tidak lebih jeli, maka ketika ia memasuki dunia seusai kuliah nanti ia akan lebih sulit bersaing dibanding dengan mahasiswa yang secara bijak dapat memanfaatkan kesempatan dan waktu dengan baik untuk mengembangkan diri dalam langkah-langkah pencapaian visinya. Tidak mau kan kalau misalnya nanti kita ditanya pas wawancara kerja tentang “apa yang kita punya sehingga kita layak untuk menerima gaji sekian” tapi kita tidak bisa meyakinkan employer? Tidak mau juga kan tujuan/visi kita tersendat cuma karena kita kurang bijak dalam mengambil langkah? Lebih baik pertimbangkan dan prioritaskan hal-hal/kegiatan-kegiatan yang benar-benar menunjang visi kita.

About little mind

just a little man struggling to be a great man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: