Ke-esaan Allah dan Keilahian Kristus


Berbicara tentang ke-esaan Allah tidak pernah lepas dari kontradiksi tentang “Allah Tritunggal” atau yang biasanya disebut-sebut secara frontal sebagai “Tuhannya orang Kristen”. Istilah tersebut sangat menimbulkan kesan bahwa Tuhan orang Kristen bukanlah Allah yang disembah oleh umat Islam (tidak berbicara tentang agama lain seperti Hindu, Budha , atau konghucu yang tidak menganut monotheisme). Di sinilah kesalahpahamannya. Perlu diluruskan bahwa baik orang Kristen maupun umat Islam menyembah Tuhan yang sama, dan mereka sama-sama menyembah Tuhan yang esa.

Kesalahpahaman yang terjadi pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan kode bahasa Ibrani dan Yunani (bahasa asli Alkitab) dengan terjemahan yang digunakan oleh LAI dan dalam Al’Quran untuk merujuk kata Allah sendiri. Dalam Alkitab (LAI-TB) sering digunakan kata Tuhan untuk merujuk Yesus, terutama dalam surat-surat Paulus. Hal inilah yang diragukan kebanyakan umat Islam dalam memahami siapa sebenarnya Tuhan yang disembah oleh orang Kristen karena pada konteks kode bahasa, umat Islam mengacu kata Tuhan setara dengan Allah SWT, atau YHWH dalam bahasa Ibrani, sebagai rujukan nama Allah. Padahal seharusnya kata ganti Tuhan untuk merujuk Yesus menggunakan kata “Tuan”. Padanan dalam bahasa Ibrani (bahasa asli kitab PL) menggunakan kata “Adonai” dan dalam bahasa Yunani (bahasa asli kitab PB) menggunakan kata “Kurios” yang berarti Tuan, Penguasa, Guru, atau Raja. Mungkin akan muncul pertentangan dari orang-orang Kristen yang menyatakan tidak setuju pada pernyataan bahwa Yesus bukan Tuhan (Allah), namun kebenaran mengatakan bahwa Yesus ditinggikan (sebab mengapa Ia disebut sebagai guru atau tuan) karena segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki-Nya (Mat 28:18) sehingga seharusnya kata “Tuhan” untuk Yesus yang sering digunakan oleh LAI dalam surat Paulus diartikan sebagai Tuan.

Melihat pernyataan di atas, pastilah masih muncul pertanyaan, “Lalu, Yesus itu siapa?” Jawaban dari pertanyaan ini akan menjawab juga tentang “Siapa sebenarnya Tuhan orang Kristen yang disebut-sebut memiliki tiga Pribadi itu?” Jawaban pembukanya yaitu Allah orang Kristen maupun Islam tidak terbagi-bagi atas pribadi. Memang banyak pemahaman tentang Allah Tritunggal: Allah Bapa, Putera (bukan Allah Anak), dan Roh Kudus sehingga seringkali juga kita dengar perumpamaan yang sedemikian rupa berusaha menjelaskan ketritunggalan Allah seperti perumpamaan pohon yang memiliki akar, batang dan daunnya atau seperti sebuah gedung yang terdiri dari beberapa ruangan kecil. Tidak, Allah tidak dapat disamakan dengan ciptaan-Nya. Banyaknya pemahaman ini bukan berarti Allah memiliki tiga pribadi. Oleh karena itu amat lebih baik jika kita tidak menggunakan istilah Allah Tritunggal karena pada hakekatnya Allah tidak terbagi-bagi. Istilah “Bapa, Anak, dan Roh Kudus” memang digunakan dalam Alkitab (Matius 28:19), namun bukan untuk merujuk kepada pribadi Bapa, pribadi Yesus, dan pribadi Roh Kudus.

Allah atau Tuhan yang kita kenal kita sebut dengan sebutan Bapa karena sifat-Nya yang ke-bapaan atau selalu mengayomi; Roh Kudus yang kita kenal adalah wujud-Nya atau dzat-Nya yang adalah Roh; dan Yesus Kristus adalah pikiran-Nya atau kalam (bahasa Arab) atau firman-Nya (logos). Yesus Kristus adalah firman Allah yang kekal yang berwujud sebagai manusia, yang disebut sebagai Anak-Nya. Hal ini diungkapkan dalam Yohanes  1:14 bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Dari ayat ini kita tahu bahwa sebutan Anak Tunggal diberikan kepada Yesus bukan karena terjadi perkawinan biologis antara Allah-nya orang Kristen dengan Maria, melainkan sebutan yang diberikan-Nya kepada kalam-Nya yang berwujud menjadi manusia. Dari 1 Yohanes 5:7 juga kita tahu bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang esa: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.”

Melihat penjelasan di atas masih saja memungkinkan munculnya argumen dari kebanyakan orang Kristen yang mengatakan, “Aku tetap meyakini bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Aku tetap menyembah-Nya.” Mari kita kembali ke pembahasan tentang kode bahasa. Paulus pun menyebut Yesus sebagai Tuhan: itu benar, namun yang dimaksudkan di sini bukanlah Tuhan dalam artian Allah YHWH atau Elohim atau Ilah. Terjemahan baru LAI menggunakan kata Tuhan untuk merujuk Tuan, karena dalam bahasa Ibraninya sepadan dengan Adonai atau Kurios dalam bahasa Yunani yang berarti Tuan, atau seseorang yang ditinggikan. Inilah juga landasan penyembahan orang Kristen kepada Yesus Kristus bukan sebagai Ilah atau Allah atau Bapa, melainkan kita menyembah-Nya sebagai firman-Nya, atas otoritas atau kekuasaan yang telah diberikan oleh Bapa kepada-Nya (Mat 28:19). Jadi, jelaslah bahwa Yesus Kristus tidak disembah sebagai Allah, bukan disembah atas dasar keilahian-Nya, namun atas dasar kuasa-Nya.

Ada lagi argumen yang tetap menyatakan bahwa Yesus itu adalah Allah, yang biasanya membawa ayat berikut dalam terjemahan LAI, yaitu dalam Yohanes 1:1-3 yang mengatakan: “Pada mulanya adalah Firman: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Dari ayat-ayat ini kita kembali menyoroti LAI menggunakan “Allah” kepada Firman-Nya, yang kita kenal sebagai Yesus Kristus, dan menggunakan “Allah” merujuk pada Allah pencipta. Jelas terdapat perbedaan rujukan pada pronomina ini. Kebanyakan orang Kristen pasti langsung berasumsi dan berkata, “Tuh, benar kan, Yesus itu Allah. Dia sama dengan Bapa!” Namun perhatikan kembali perihal kode bahasa LAI di sini. Sekali lagi ditegaskan bahwa LAI memiliki kode bahasa yang berbeda dengan bahasa asli Alkitab. Jika dalam kitab aslinya bahasa Ibrani menggunakan “YHWH”, bahasa Arab menggunakan “Allah”, dan KJV menggunakan “LORD” untuk merujuk Tuhan atau Allah sebagai nama diri, LAI menggunakan “Allah”. Jika bahasa Ibrani menggunakan “Elohim”, bahasa Yunani menggunakan “Theos”, dan bahasa Arab menggunakan “Ilah”, KJV menggunakan “GOD” untuk merujuk Ilah atau Tuhan sebagai kata umum, LAI kembali menggunakan “Allah”. LAI juga menggunakan “Allah” untuk merujuk Tuhan yang satu itu sedangkan bahasa Ibrani menggunakan “Ha-Elohim”, bahasa Yunani menggunakan “Ho-Theos”, KJV menggunakan “The God”, dan bahasa Arab menggunakan “Al-Ilah”. Dari sini seharusnya kita cermat dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Untuk perbedaan kode bahasa ini akan lebih baik jika kita masing-masing mendalami lebih lagi bahasa-bahasa tersebut.

Bukan pribadi yang terbagi, dan bukan Pribadi yang dapat disamakan dengan ciptaan-Nya: itulah Allah, Allah yang esa. Allah yang disembah oleh umat Islam maupun umat Kristen, dan Allah yang disembah Abraham.

 

NB: Tuhan di sini diartikan = Gusti (bahasa Indonesia sehari-hari) = Allah (bahasa Arab) = YHWH (dalam bahasa Ibrani).

LAI: Lembaga Alkitab Indonesia

KJV: King James Version

About little mind

just a little man struggling to be a great man

7 comments

  1. don silver

    kenapa di kitab Kejadian 1:26 dan Kejadian 3:22 Allah menyebut diri Nya dengan sebutan jamak ” Kita “.

    bukankah itu membuktikan Allah yang esa mempunyai beberapa Pribadi, sesuai yg telah diyakini umat kristen bahwa Allah terdiri dari Tiga Pribadi ( Bapa, Firman dan Roh Kudus ).

    tolong jelaskan pendapat anda atas pengunaan kata ” Kita ” yg dikatakan oleh Allah.

    atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. ( tolong di email ya ).

    • Salam,

      Maaf baru sempet balas. Untuk saat ini saya baru bisa kasih referensi website perihal keesaan Allah. Penggunaan kata ‘kita’ di Kej 1:26 oleh LAI – TB, sesuai dengan bahasa Indonesia, secara literal artinya memang jamak (lebih dari satu). Tapi kalau telaah kitab suci kan harus dari bahasa aslinya, jadi seharusnya kita lihat sumbernya di PL bahasa Ibrani menggunakan kata apa.

      Saya belum menguasai bahasa Ibrani, tapi kita pasti tahu bahwa setiap bahasa memiliki ketentuan sintaksis dan semantis yang berbeda.

      Dalam bahasa Ibrani, nomina ada yang bersifat tunggal dan jamak.

      *Di sini kita bahas yg jamak

      Nomina jamak di sini dibagi lagi menjadi dua, yaitu:

      1. jamak dalam arti lebih dari satu

      2. jamak yang menunjukkan keagungan

      Di sini seharusnya kata “kita” dituliskan “kami” karena bermakna jamak yang ke-dua.

      Lebih jelasnya, silakan baca di http://www.studycycle.net/2009/07/tuhan-itu-tunggal-atau-jamak.html yang menjelaskan tentang nama diri Elohim bersifat jamak dalam arti yang mana (lebih dari satu atau pengagungan).

      Terima kasih!

      • don silver

        sepertinya anda harus lebih banyak belajar mengenai isi alkitab. Allah tidak pernah menyatakan keagungan Nya dgn kata “Kita”. kalau kata “Kita” terjemahan LAI meragukan,seharusnya anda cross check antara Bahasa Indonesia dgn bahasa Inggris. apakah yg terjemahan Indonesia dan Inggris bisa salah ?

        seharusnya anda mengerti arti kata ” Kita ” itu adalah perkataan langsung satu Oknum yg mewakili beberapa Oknum yg ada pada saat bersamaan dgn level/tingkat yg sama (setara).

        sangat jauh dgn pendapat anda yg mengartikan kata “Kita” sbg menunjukkan keagungan. anak SD pun tahu arti kata “Kita”, masa anda yg kuliah tidak mengerti.

        tolong anda tanya ke dosen anda arti dari kata “Kita”, setelah mengerti baru anda jelaskan ke saya.

        dalam menunjukkan kekuasaan, keagungan, kekudusan, keadilan, Allah tidak pernah memakai kata “Kita”, Dia selalu memakai kata “Aku”.

        jadi tolong anda belajar alkitab yg benar sampai memahami artinya, baru membuat pernyataan tentang Allah.

        Jesus Christ love u, fren.

  2. Orang Kristen

    Shalom..
    Oh, ternyata dari Fakultas Sastra. Saya bisa maklum kalau Anda belum paham tentang keIlahian Yesus. Selanjutnya silakan dengarkan audio penjelasan berikut:
    http://www.4shared.com/file/104572348/17c4e607/iscs01.html
    http://www.4shared.com/file/108765070/1aab59d9/iscs02.html
    http://www.4shared.com/file/110415515/f1a1287c/iscs03.html

    atau versi compressed:
    http://www.4shared.com/file/149363068/91acf82e/iscs01_low.html
    http://www.4shared.com/file/149380825/28e701a0/iscs02_low.html
    http://www.4shared.com/file/149387476/58546582/iscs03_low.html

    Semoga bisa mempermudah dalam pemahaman dan semoga di kemudian hari tidak membuat tulisan yang menyesatkan seperti ini lagi.

    Tuhan YESUS memberkati

  3. Dear, Don Silver

    Pernyataan bahwa saya harus lebih banyak belajar tentang isi Alkitab & kebenaran-Nya itu memang sangat saya setujui. “sok pintar” dan “sok tahu” namanya kalau baru tau sedikit sudah berhenti belajar tentang Alkitab, hehe.

    Opini: ‘Allah tidak pernah menyatakan keagungan Nya dgn kata “Kita”.’
    Respon: Saya sangattt setuju, karena seperti yang saya katakan, lebih tepat kalau “kita” diganti penggunaannya dengan “kami”. “Kita” memang tidak cocok untuk menyatakan keagungan, lain dengan “kami”.

    Cross check antara bahasa Inggris & bahasa Indonesia jelas ada. Di Kej 1: 26 KJV memang menggunakan “Let us”
    Kalau dilihat bahasa Inggrisnya, “us” di sini memang artinya “kita”;
    Nah, kembali lagi ke perihal bahasa aslinya. Kalau mau benar2 eksegesi Alkitab kan memang harus dari bahasa aslinya.
    Jadi seharusnya penekanan pembahasan Anda juga lebih di bahasa Ibrani, bukan mempersoalkan lebih dalam tentang terjemahan bahasa apapun selain bahasa aslinya.

    Saya hanya berani bilang kalau terjemahan di bahasa Indonesia “kurang tepat” sedangkan bahasa Inggris hanya memiliki “us” atau “we” untuk menunjukkan jamak.

    Nah,, sebenarnya di bahasa Ibrani jauuh lebih jelas penekanan “jamak”nya.
    Seperti yang saya sudah tulis di atas, ketentuan sintaksis dan semantis dalam bahasa Ibrani tentu berbeda.
    Nomina dalam bahasa Ibrani dibagi menjadi 3; yaitu nomina tunggal, jamak dalam arti numerik (banyak), dan jamak dalam arti majestaistic (keagungan).

    Saya tidak pernah bicara bahwa “kita” menunjukkan pengagungan dalam bahasa Indonesia. Saya bilang bahwa “kita” memang mengandung arti jamak numerik; maka dari itu saya lebih setuju penggunaan “kita” dlm kej 1:26 seharusnya menggunakan “kami” (berdasarkan acuan bahasa asli perjanjian lama, yaitu bahasa Ibrani).

    Bung Don, terima kasih sarannya! Tapi kalau untuk memahami arti kata “kita” menurut saya ngga harus jauh2 tanya ke dosen saya; tapi kalau pemahaman lebih lanjut tentang bahasa Ibrani, barulah saya memang harus benar-benar bertanya dan belajar dari ‘mahaguru’ alias dosen saya, hehe.

    Oh iya, kalau boleh saya tahu, dan kalau Anda berkenan berbagi pengetahuan, Anda dapat referensi dari mana kalau “Allah tidak pernah menyatakan keagungan-Nya dengan ‘kita’ melainkan ‘Aku’ saja?

    Terima kasih Bung Don! Piss!
    God bless

  4. Pingback: Sederet tanya dan tanggapan atas “Keesaan dan Keilahian Kristus” « A Tiny Man with Little Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: