Membangun Reruntuhan yang Tertinggal


“Membangun reruntuhan atau meninggalkannya?” Pertanyaan sederhana ini cukup membuat saya mengalami pertentangan batin yang cukup lama beberapa waktu ini dimana saya masih mengemban tanggung jawab dalam kepengurusan di PMK Sastra. Pencapaian visi, pembinaan mahasiswa Kristen, kompleksitas masalah baik di dalam maupun di luar kepengurusan, dll. Membuat saya ingin segera menanggalkan predikat sebagai salah satu koordinator dalam organisasi kerohanian ini. Inilah yang saya rasakan, namun saya mengajak kita semua untuk ikut merenungkan pertanyaan di atas sebagai anggota keluarga PMK Sastra.

Membangun reruntuhan memang bukan hal yang mudah. Butuh bahan bangunan, tenaga, kemauan, kerja keras dan rancangan yang baik. Ketika semua itu belum kita dapatkan, kita cenderung berkecil hati dan memilih “meninggalkan reruntuhan itu.” Kelihatannya memang lebih ringan, namun akan ada banyak kerugian yang akan kita dapatkan. Reruntuhannya akan semakin usang, rapuh, dan akhirnya diambil alih oleh orang lain. Saat itulah kita kehilangan harta kita. Sayangnya, justru itulah pilihan yang seringkali diambil oleh kebanyakan dari kita: meninggalkan reruntuhan itu.

Kita lebih memilih untuk meninggalkan reruntuhan itu daripada membangunnya kembali karena kita tidak menganggap bahwa reruntuhan itu sebagai dasar harta, melainkan sampah yang harus kita buang atau abaikan. Di sinilah dasarnya. Alasan ini memicu alasan-alasan lainnya yang membuat kita banyak berdalih dari tanggung jawab kita atas reruntuhan itu.

Inilah dalih-dalih yang sering kita jadikan perisai untuk menolak tanggung jawab kita:

  1. Aku bukan pengurus, atau aku tidak merasa menjadi bagian dari PMK Sastra.

Namun Tuhan berkata di Yeremia 1:5 ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Yeremia 1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

Dari ayat ini kita tahu bahwa alasan kita ada di Sastra bukanlah suatu kebetulan. Dia lah yang mengutus kita ke ladang Sastra. Oleh karena itu, PMK Sastra bukan hanya milik sebagian orang, bukan hanya pengurus, melainkan semua pengikut Kristus. Oleh karena itu pula, ini adalah tugas kita bersama untuk membangun reruntuhan itu bersama-sama.

2. Kuliahku lebih penting. Aku tidak ingin memusingkan diriku dengan rupa-rupa persoalan di PMK Sastra.

Tuhan berkata lewat Amsal 28:19 “Siapa yang mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.”

Bukan berarti kuliah adalah hal yang sia-sia. Yang dimaksud dengan hal yang sia-sia di sini adalah hal-hal yang kita kerjakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Kita adalah satu dalam PMK Sastra, berarti kita juga memegang hukum yang sama yaitu “Kesatuan jemaat Kristus se-Fakultas Sastra” sebagai visi kita bersama. Marilah kita bersama-sama pegang hukum ini karena Tuhan berkata dalam Amsal 29:19, “Bila tidak ada wahyu menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.”

3. Aku tidak ingin melayani di Sastra. Aku bisa memilih tempat lain seperti gereja, lembaga pelayanan, dan tempat lain untuk melayani Tuhan.

Ingatlah Tuhan berkata di Yeremia 1: 7 : Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

Juga di Amsal 28: 19 “Siapa yang mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.”

Hal-hal di atas adalah murni alasan-alasan kebanyakan anggota PMK Sastra untuk berpaling dari bagian yang harus dikerjakannya di ladang Sastra berdasarkan pengamatan sejarah perkembangan PMK Sastra. Tidak salah kalau kita mementingkan kuliah atau persoalan pribadi kita. Itu pun jelas adalah bagian dari tanggung jawab kita. Tidak salah pula kalau kita memilih melayani di tempat lain, karena Tuhan mengharapkan agar segala sesuatu yang kita kerjakan, seluruh kehidupan kita hendaknya menjadi persembahan yang harum dan berkenan di hadapan-Nya. Namun Tuhan meminta kita bekerja untuk-Nya.

Ingatlah filosofi anjing dan kucing! Kebanyakan dari kita berlaku seperti kucing yang ketika dielus-elus, merasa mendapatkan penerimaan, tetapi kemudian menganggap bahwa ialah tuan dari orang yang mengelus-elusnya itu. Itulah kita. Setelah mendapatkan keselamatan, diberkati, merasa begitu berharga di mata-Nya, dan menganggap bahwa kitalah tuan dari Sang Pencipta. Lain halnya dengan anjing yang ketika dielus-elus, mendapat penerimaan, namun tetap merasa bahwa dia hanyalah seorang hamba dan orang yang mengelus-elusnya adalah tuannya, maka ia yang harus bekerja untuk tuannya. Ingatlah bahwa kita hanyalah seorang hamba dan memiliki tanggung jawab untuk bekerja bagi tuan kita, yaitu Tuhan yang kita sembah dalam Yesus Kristus.

Ada lagi bahkan yang secara terang-terangan berkata, “Aku tidak akan melayani di PMK Sastra karena PMK Sastra terlalu kharismatik.” Oh Tuhan, lagi-lagi alasan denominasi. Sampai kapan tubuh Kristus mau memecah-mecah dirinya sendiri? Sampai kapan kita menjadi penghambat kesatuan tubuh Kristus? Hal yang sangat disayangkan adalah orang-orang yang mengatakan hal ini adalah orang-orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang PMK Sastra. Mereka hanya mendengar pendapat orang, yang juga tidak tahu apa-apa, hanya melihat permukaan tanpa berniat mengenali dengan benar keadaan rumah mereka yang sebenarnya. Selama hampir empat tahun saya berkecimpung di dalamnya, dengan mudah saya bisa mengatakan bahwa pendapat itu salah. PMK Sastra tidak terlalu kharismatik. Itu sama sekali tidak sesuai dengan keadaan di mana hanya beberapa orang yang mengimani denominasi ini melakukan penyembahan dengan cara mereka (tidak dengan berbahasa lidah karena juga menghargai mereka yang berasal dari denominasi lain), bernyanyi dengan bertepuk tangan, dan persekutuan yang tidak secara liturgis seperti di gereja-gereja konservatif pada umumnya. Salahkah jika kita melarang orang beribadah dengan caranya sendiri? Bisakah dengan itu dikatakan bahwa PMK Sastra secara utuh, dikatakan terlalu kharismatik? Ada lagi yang menyebabkan pendapat itu masih melekat di PMK Sastra, yaitu karena kejadian retreat 2007 di mana salah seorang pembicara (tanpa diundang) melakukan altar call dan gaya doa yang memang terlalu kharismatik sehingga kebanyakan mahasiswa baru (2007) yang bukan berasal dari denominasi ini kaget dan langsung secara serempak menjauhkan diri dari PMK Sastra.

Hal positif yang sebaiknya kita lakukan adalah tidak menjauh atau memisahkan diri tetapi terjun dan bertindak langsung untuk perubahan PMK Sastra. Jika memang kita merasa “ada yang tidak benar” atau merasa bahwa PMK Sastra memang terlalu didominasi oleh “kekharismatikan,” mengapa bukan kita yang terjun dan menjadi penggerak-penggerak yang membawa PMK Sastra lepas dari kesan seperti itu? Mengapa kita malah pergi menjauh? Bukankah dengan kepergian dan ketidakmau tahuan justru membuat kita terlihat “melarikan diri” dengan alibi “kekharismatikan” PMK Sastra? Renungkanlah apa yang Tuhan katakan dalam Amsal 28:14: “Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”

Kitalah seharusnya yang mengubahkan, yang membangun reruntuhan di PMK Sastra ini. Bangunlah hati seperti hati Tuhan untuk PMK Sastra. Andalkanlah Tuhan dalam membangun reruntuhan ini. Kita tahu bahwa kita tidak dapat bekerja sendirian. Jangan tinggalkan reruntuhan itu sekalipun tidak ada seorang pun yang mendukung kita karena Tuhan tetap setia pada janji-Nya. Dalam 2 Tawarikh 15:17 Ia berkata, “Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

Kumpulkanlah pasukan! Jangan kembali berdalih! Ini adalah saat yang tepat untuk kita bekerja. Jika kita tidak bisa mendapatkan bahan bangunan dan rancangan yang baik, Tuhan dan pasukan-Nya akan menolong kita mendapatkannya. Ia juga yang akan memberikan kita kemauan dan kemampuan untuk dapat bekerja keras. Sekali lagi, jangan kembali berdalih! Janganlah meninggalkan reruntuhan itu apapun alasannya!

Mulailah kita membangun reruntuhan ini mulai dari hal yang terkecil. Jangan pandang hal ini sebagai beban karena sungguh, Tuhanlah yang menguatkan kita. Berilah kasih yang tulus terhadap yang lain, dukunglah setiap pekerjaan-Nya di PMK Sastra, berdoalah untuk Sastra, bangunlah kesatuan jemaat Kristus se-Fakultas Sastra!

Pembangunan reruntuhan ini adalah awal dari harta yang dijanjikan-Nya. I Korintus 3:8 berkata: “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” Kita akan menerima upah sesuai dengan pekerjaan kita masing-masing, akan apa yang sudah kita kerjakan untuk membangun reruntuhan ini. Ke mana pun kita pergi nantinya, entahkah kita memperbaharui dunia pendidikan, sastra, pemerintahan, ekonomi, dll., pembangunan reruntuhan ini akan terus melekat menjadi harta kita untuk memuliakan Dia. Terpujilah DIA untuk selama-lamanya. Dialah janji dari segala janji.

Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”

About little mind

just a little man struggling to be a great man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: