Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas


Judul Buku                  : Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas

Nama Pengarang         : Thomas van Den End

Nama Penerbit             : PT. BPK Gunung Mulia

Tahun Terbit                : 2001 (cetakan ke-15)

Nama Penerjemah       : -

Judul Asli                    : -

 

 

Perkembangan gereja sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana Injil tumbuh dan berkembang. Secara politis, Injil lahir di wilayah yang terbagi dalam dua negara besar, yaitu kekaisaran Roma dan kerajaan Partia (Persia 225M). Kekaisaran Romawi meliputi daerah-daerah sekitar Laut Tengah sedangkan kerajaan Partia meliputi wilayah Irak dan Iran yang sekarang. Di wilayah ini terdapat berbagai macam kebudayaan dan agama suku yang dianut oleh penduduknya. Di wilayah itu dapat juga ditemukan penganut agama Yahudi. Agama Yahudi inilah yang paling mempengaruhi awal perkembangan gereja.

Agama Yahudi memegang Taurat Musa sebagai inti ibadah mereka. Mereka menganggap Taurat Musa sebagai syarat untuk berkenan kepada Allah padahal seharusnya Taurat itudijalankan sebagai sumber kegembiraan. Mereka juga mengecam orang-orang yang hidup di luar agama Yahudi sebagai orang-orang kafir sehingga hubungan antara orang-orang Yahudi dengan bangsa-bangsa lainnya, yang pada saat itu mayoritas memeluk agama-agama suku, kurang baik. Orang-orang bukan Yahudi pada masa itu yang tertarik pada ajaran ke-esaan Allah dan memeluk agama Yahudi dan yang menaati seluruh hukum Taurat  disebut sebagai orang-orang proselit; sedangkan orang-orang yang hanya percaya kepada Tuhan namun tidak taat kepada seluruh hukum Taurat (misal perintah untuk bersunat) dikenal sebagai orang-orang yang takut akan Allah.

Tempat orang-orang Yahudi beribadah dinamakan Bait Allah di Yerusalem. Di setiap kota dan desa juga terdapat satu sinagoge, gedung ibadah di mana setiap hari Sabtu dilakukan pembacaan Taurat dan penjelasannya. Di daerah kekaisaran Romawi orang Yahudi merupakan minoritas. Sebagian besar penduduknya menganut agama suku dan kebudayaan Helenisme[1]. Bahasa pengantar di sebagian besar wilayahnya yaitu bahasa Yunani, yang juga dipakai dalam kitab perjanjian baru (PB).

Ketidakpuasan masyarakat terhadap agama-agama dan kepercayaan yang ada pada saat itu membuat mereka membuat pegangan-pegangan baru dalam bentuk aliran kepercayaan baru, filsafat dan pemujaan terhadap kaisar. Agama-agama misteri muncul menggantikan agama suku. Kaisar Augustus yang berhasil memulihkan perdamaian di negara Romawi dipandang sebagai penyelamat dan disembah. Aliran filsafat yang muncul pada masa itu beberapanya adalah ajaran aliran Stoa yang berkembang pada abad pertama dan ke-2 M, Platonisme, dan Neo-Platonisme. Aliran Stoa mengajarkan bahwa ketenangan batiniah adalah keselamatan; Platonisme (±375M) memenuhi ketidakpuasan terhadap pertanyaan ‘apa yang dapat kuharapkan’, yang tidak dapat dipenuhi oleh ajaran aliran Stoa, dan mengalami perkembangan yang berbelit-belit. Pada abad ke-3 M aliran itu berkembang menjadi aliran Neo-Platonisme (Neo: baru). Ciri-ciri filsafat Neo-Platonisme ini yaitu bahwa Allah berada jauh tak terhingga di atas dunia dan manusia. Tak ada sesuatu yang dapat mengungkapkan tentang Allah. Ia tidak bergerak, tidak bertindak, tidak memperkenalkan diri, tidak mempunyai nama, kecuali Yang Esa; namun dari Yang Esa itu mengalirlah Nous (Roh, pemikiran). Ada pula logos (Firman, tertib) yang menyatakan Nous Allah di dalam roh manusia dan dalam tata tertib dunia di sekitar manusia. Keduanya ini merupakan pengantara antara Allah dengan manusia dan dunia namun kadar keilahiannya tidak sama dengan Yang Esa. Dalam ajaran ini terlihat bahwa Allah seperti beritngkat-tingkat. Sebenarnya agama-agama dan aliran-aliran filsafat helenistis ini memiliki suatu persamaan, yaitu bahwa dunia ini terbagi ke dalam dua bagian (baik dan buruk, atas dan bawah, jiwa dan raga, dsb.), yang disebut sebagai dualisme. Cara-cara pemisahan jiwa yang bersifat ilahi dari raga yang bersifat fana atau baik dari yang buruk disebut askese, yaitu misalnya dengan menyendiri demi mencapai ketenangan batiniah.

Abad pertama sejarah gereja berlangsung dari tahun 30 hingga 150 M. Pada awal masa ini akhirnya gereja purba memahami bahwa ketaatan pada hukum Taurat tidak boleh lagi dianggap sebagai syarat mutlak keselamatan. Dampaknya juga menyebabkan gereja Kristen dapat meluas di lingkungan orang-orang bukan Yahudi. Sekitar tahun 48 M (kira-kira 18 tahun sesudah hari Pentakosta) Paulus berhasil meyakinkan para rasul untuk tidak memaksa orang-orang Kristen bukan Yahudi untuk menaati Taurat Musa; namun masih ada saja orang Yahudi yang menganggap Taurat Musa mutlak sebagai syarat keselamatan. Mereka ini disebut sebagai kaum Yudais.

Perluasan gereja bertolak dari daerah Palestina-Siria ke daerah-daerah sebelah Barat, Timur dan Selatan. Di pertengahan ke-2 abad ke-2 agama Kristen sudah tersebar di daerah yang terbentang dari Eropa Barat sampai ke Asia Tengah. Pada masa pertama, Antiokhia menjadi salah satu pusat pekabaran Injil yang utama. Di sinilah pertama kali berdiri jemaat Kristen yang bukan orang-orang Yahudi. Sekitar tahun 180 M agama Kristen sudah tersebar ke daerah yang membentang dari Gallia (Perancis) di Barat sampai Arabia Selatan dan Persia di Timur.

Agama Kristen juga sudah memasuki berbagai lingkungan dan bahasa. Berbagai lingkungan juga mempengaruhi perkembangan agama tersebut hingga timbul berbagai cara yang ebrbeda untuk mengungkapkan keselamatan yang dberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Di antaranya yaitu (cara yang ditemukan pada abad ke-2 M): didakhe, surat-surat Ignatius, Yustinus Martir, dan Bardaisan.

Didakhe. Kata ini berarti ‘pengajaran’. Kitab ini adalah salah satu tulisan yang terkenal setelah zaman para rasul, yang diperkirakan ditulis di Siria pada tahun 100 M. Kitab ini berisi tentang jalan kehidupan dan jalan maut, kebiasaan-kebiasaan dalam hal berpuasa dan berdoa, mengenai tata ibadah khususny perayaan sakramen-sakramen, dan mengenai tata gereja.

Surat-surat Ignatius. Sekitar tahun 110 M uskup Ignatius dari Antiokhia ditangkap oleh pemerintah Romawi. Dalam surat-surat ini tidak ada suasana moralisme seperti yanh terdapat dalam kitab didakhe melainkan pujian-pujian kepada Kristus yang menyelamatkan manusia. Ia menekankan bahwa keselamatan itu adalah kehidupan dan yang dipentingkan dalam karya Kristus ialah kebangkitan.

Yustinus Martir. Ia adalah seorang filsuf aliran Platonisme namun telah beralih ke filsafat Kristen. Ia mengungkapkan imannya melalui filsafat Yunani (Plato), namun ia juga mengaku bahwa Allah yang tak dapat dikenal itu memperkenalkan diri dan mengutus Anak-Nya ke dunia dan menyelamatkannya. Untuk mengungkapkan Kristus ia juga menggunakan filsafat Stoa. Ia adalah teolog pertama yang berusaha menguraikan iman Kristen secara ilmiah.

Bardaisan. Ia adalah seorang bangsawan dari Edessa yang dididik dalam lingkungan agama sinkretistis yang tersebar di Asia Barat, yang unsur utamanya adalah astrologi (ilmu nujum) dari Babilonia kuno. Ia menekankan bahwa pilihan untuk berbuat baik atau jahat, berkaitan dengan takdir dalam ilmu astrologi, merupakan pilihan kita sendiri.

Dalam tata gereja juga terdapat bentuk yang berbeda-beda. Di setiap jemaat terdapat sejumlah presbuteroi (penatua). Dari mereka dipilih penilik-penilik (episkopoi) yg dibantu para diaken (diakonoi). Penilik mengurus soal administrasi dan memimpin kebaktian; diaken mengurus bantuan bagi orang miskin dan melayani Perjamuan Kudus. Ketiganya diangkat melalui pemilihan unt tugas yg tetap; namun di beberapa jemaat ada yang nampak pimpinan rangkap, yaitu di samping pelayan ada juga nabi-nabi dan pengajar-pengajar yang disegani karena karunia Roh yang dianugerahkan kepada mereka. Diharapkan supaya semua anggota gereja memberi sumbangan menurut karunia masing-masing. Golongan ini disebut yang berkharisma’ (Roh).

Mulai abad ke-2 polanya mulai seragam. Dalam gereja mulai ditetapkan hierarki (urutan pangkat): penilik, penatua, diaken. Satu penilik ditetapkan untuk satu jemaat. Anggapan para pelayan pada saat itu yang memandang hubungan mereka jauh lebih tinggi dibanding jemaat menyebabkan perubahan baru. Istilah Yunani ‘episkopos’ tidak lagi diterjemahkan sebagai penilik melainkan uskup. Penatua atau ‘presbuteroi’ diterjemahkan sebagai imam. Uskuplah yang berkuasa dalam jemaat. Segala keputusan gereja ditetapkan dalam siding para uskup atau sinode. Sistem di mana uskup berkuasadalam gereja ini disebut sebagai sistem ‘episkopalisme’. Sistem pemerintahan ini masih dipakai di gereja ortodoks timur (di Rusia dan Eropa tenggara).

Ada tiga unsur yang ada dalam ibadah pada masa itu: pembacaan Alkitab, khotbah dan doa. Perjamuan dirayakan setiap hari Minggu, dan hanya orang-orang percaya yang telah beroleh pembasuhan pengampunan dan kelahiran kembali dan yang hidup sesuai ajaran Kristen. Sedangkan baptisan dilayankan dalam upacara tersendiri. Pada abad ke-2 M mulai ada pembatasan baptisan anak-anak dengan pertimbangan bahwa baptisan harus diperoleh melalui penyesalan.

Pada tahun 150 M gereja menghadapi berbagai tantangan, diantaranya yaitu munculnya aliran-aliran gnostik. Gnosis (Yunani) artinya pengetahuan. Istilah gnostik secara khusus dipakai sebagai sebutan bagi beberapa aliran kepercayaan pada abad ke-2 M, misal aliran Valentinus dan Basilides. Pokok ajarannya tentang asal dunia, tabiat manusia, dan asal kejahatan; yaitu bahwa dunia yang buruk ini bkn ciptaan Allah yg baik; keselamatan itu diperoleh dengan askese. Asas-asas gnostik yang bertentangan dengan asas-asas iman Kristen: Perjanjian baru dipisahkan dari perjanjian lama dan maknanya diputarbalikkan; Allah Bapa tidak sama dgn Allah Bapa Yesus Kristus. Materi (zat jasmani) bukanlah ciptaan Allah; tidak akan ada kebangkitan daging dan tidak akan ada dunia baru sebab seluruh materi akan binasa kelak; dalam hal kelakuan manusia ditekankan bukan pada kesejahteraan sesama melainkan pada perlawanan tabiat jasmani.

Untuk mengatasi tantangan ini, dibentuklah tiga asas; yaitu kanon, pengakuan iman, dan uskup. Ajaran gereja yang berdasarkan ketiga asas tersebut disebut ‘ortodoks’ atau ajaran yang tepat. Kanon berarti ukuran, patokan. Gereja harus menentukan kitab mana yang benar-benar berasal dari murid Tuhan, karena pada masa itu banyak sekali penganut gnostik membuat kitab-kitab palsu yang memakai nama rasul. Gereja juga memerlukan ikhtisar pokok-pokok kepercayaan yang akan menjadi pegangan bagi jemaat. Oleh sebab itulah dibentuk pengakuan iman, yang pada akhirnya kita kenal dengan pengakuan iman rasuli. Selain itu dibutuhkan juga seseorang yang mengartikan dan menerapkan pengajaran-pengajaran tersebut. Orang itu adalah uskup.

Di abad ke-2 M penantian akan kedatangan Tuhan kembali sudah memudar. Sekitar tahun 160 M pengharapan eskatologis (yang menyangkut akhir zaman) kembali berkobar-kobar. Hal ini menyebabkan munculnya gerakan montanisme[2]. Gerakan ini dipelopori oleh seorang bernama Montanus yang menyatakan bahwa dalam dirinya sudah datang Roh penolong yang dijanjikan oleh Yesus. Ia didampingi oleh dua nabi wanita. Mereka menyatakan (sering disampaikan menggunakan bahasa lidah) bahwa akhir dunia sudah tiba, maka orang-orang dilarang untuk kawin, diharuskan banyak berpuasa dan meninggalkan dunia untuk hanya tinggal di suatu tempat (pada saat itu Pepuza[3]). Akhir dunia belum tiba namun gerakan ini tersebar ke propinsi-propinsi juga. Karena gereja percaya bahwa kanon PL dan PB merupakan pernyataan Allah yang lengkap maka gereja tidak dapat mengakui kekuasaan orang-orang yang menyatakan diri dipenuhi oleh Roh Kudus di samping kekuasaan mereka sendiri. Gerakan ini hidup sampai abad ke-4 namun akhirnya kemudian menghilang.

Pada masa perkembangan gereja di abad pertama orang-orang Kristen cukup mencolok dalam dunia sekitar. Mereka lain dari yang lain: lain dari orang Yahudi, lain pula dari orang-orang Romawi. Mereka sangat menghindari semua hal yang justru digemari oleh orang-orang kafir sezamannya; misalnya sandiwara-sandiwara dalam teater yang seringkali isinya kurang sopan. Itulah sebabnya mereka merupakan sasaran kebencian baik dari pihak rakyat maupun dari pihak pemerintah. Akibatnya banyak fitnah yang ditujukan pada orang-orang Kristen. Mereka difitnah ingin memikat orang-orang yang mereka tolong saja, angkuh, sombong, bahkan dituduh menculik anak-anak kecil untuk meminum darahnya dan memakan dagingnya, juga dituduh bahwa kebaktian mereka berakhir dengan percabulan.

Di samping itu pejabat-pejabat pemerintah lebih mencurigai sikap politis orang-orang Kristen. Mereka takut karena orang-orang Kristen dikenal sebagai orang-orang yang mengharapkan datangnya suatu kerajaan lain.

Hal-hal inilah yang akhirnya mengantarkan orang-orang Kristen pada penganiayaan selama dua setengah abad. Mereka dibunuh karena pengakuannya sebagai orang Kristen. Kalau mereka mau menyangkal dan mempersembahkan korban kepada kaisar mereka dapat dibebaskan. Cara mereka dibunuh pun sama seperti hukuman yang diberikan pada penjahat yang paling jahat: dibakar, disalib, atau berkelahi dengan binatang buas.

Orang-orang martir pada saat itu yang cukup terkenal adalah Ignatius (uskup Antiokhia), Polikarpus (uskup Smirna), Blandina (seorang budak perempuan dari kota Lyon, Perancis), dll. Kemartiran mereka justru membuat orang-orang mulai insaf akan kemuliaan dan kebenaran agama Kristen sehingga gereja makin bertambah besar.

Pada masa-masa penganiayaan orang-orang Kristen tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Maka dari itu orang-orang Kristen terpelajar mengarang kitab-kitab pembelaan atau apologi. Yang paling terkenal di antara kaum terpelajar adalah Yustinus Martir dan Tertulianus. Mereka tidak hanya sekedar menyangkal segala fitnah terhadap kepercayaan dan kelakuan orang-orang Kristen. Mereka juga berupaya membuktikan kebenaran ajaran agama Kristen yang akhirnya membentangkan kebodohan dan dosa-dosa agama-agama kafir yang politeis. Meski negara tidak mengindahkan tulisan-tulisan mereka namun pada akhirnya kaum-kaum terpelajar mulai memperhatikannya. Para apologet itu merupakan orang-orang pertama yang menguraikan ajaran agama Kristen secara sistematis.

Sekitar tahun 250 M dimulailah tahap kedua penganiayaan terhadap kaum Kristen. Penganiayaan ini dilakukan langsung oleh negara sendiri sebagai pemrakarsanya. Negara sengaja ingin memusnahkan agam Kristen. Kaisar Decius (±250) dan Kaisar Diocletianus (± 300) adalah musuh-musuh utama agama Kristen. Sikap negara pada saat itu mulai menjadi keras karena musuh-musuh menyerang batas-batas kekaisaran. Kaisar Decius ingin memperkuat ketahanan negara melalui agama. Para penduduk diharuskan mempersembahkan korban kepada dewa-dewa. Kalau orang Kristen menolak mereka dianggap pengkhianat. Sekitar tahun 250 jumlah orang Kristen sudah agak besar, tersebar di seluruh kekaisaran dan di luar perbatasannya sampai di Persia dan di India. Yang paling banyak jumlahnya di Asia Barat terutama di Asia Kecil dan Siria. Mereka tinggal di kota-kota dan kebanyakan adalah rakyat kecil. Meskipun begitu negara terutama menyerang uskup-uskupnya. Uskup-uskup dari Roma, Antiokhia, dan Yerusalem mati dibunuh.

Setelah satu tahun penghambatan itu pun terhenti karena negara mengakui kekalahannya. Setelah beberapa puluh tahun gereja dapat berkembang tanpa hambatan. Orang-orang Kristen bahkan menduduki pangkat-pangkat dalam istana. Tiba-tiba pada tahun 303 di bawah pemerintahan kaisar Diocletianus orang-orang Kristen dianiaya lebih hebat daripada sebelumnya. Setelah berlangsung selama delapan tahun barulah penghambatan ini berhenti.

Lain halnya dengan kaisar Konstantinus Agung. Ia mencari jalan untuk mempertahankan keutuhan negara dengan mencari dukungan gereja, yaitu dengan mengeluarkan edik Milano. Gereja mulai dianakmaskan, milik gereja yang dirampas harus dikembalikan dan negara memberi banyak uang untuk pembangunan gedung-gedung gereja. Negara memaksa semua anggota sekta-sekta Kristen masuk menjadi anggota gereja. Walaupun Konstantinus masih membiarkan agama kafir, namun pengganti-penggantinya menyuruh orang untuk menutup rumah-rumah berhala dan melarang orang untuk menyembah dewa-dewa.

Pada tahun 380 Kaisar Theodosius mengeluarkan peraturan supaya seluruh penduduk menganut agama resmi, yaitu agama Kristen ortodoks. Namun sesudah tahun-tahun itu kaisar-kaisar juga ingin memperoleh pengaruh yang sebesar-besarnya di dalam gereja. Mulailah dipilih uskup-uskup yang mau memihak kepada pemerintah. Gereja harus mengutuk musuh-musuh kaisar. Begitulah hingga gereja menjadi kaya raya dan jumlah orang Kristen menjadi melonjak. Orang-orang yang ingin tetap memlihara nilai-nilai Kristen memisahkan diri dan menyendiri sambil ber-askese.

Setelah penganiayaan selesai, muncullah pertikaian dari dalam, yaitu dari antara orang-orang Kristen sendiri. Yang dipersoalkan adalah diri Kristus, yaitu hubungannya dengan Allah Bapa (tentang trinitas)dan hubungan tabiat ilahi dan manusiawi di dalam diri Kristus (tentang kristologi). Pemikiran-pemikiran dalam filsafat yang menjabarkan tabiat Kristus (Neo-Platonisme misalnya) menimbulkan masalah karena filsafat Yunani-Romawi ini memandang zat ilahi bertingkat-tingkat. Di satu sisi kaum teolog ingin memakai wawasan-wawasan yang dapat dipahami oleh orang-orang sezaman mereka, namun di sisi lain mereka tidak mau dan tidak boleh menyimpang dari Sabda ilahi dalam Alkitab.

Ikhtisarnya kelahiran dogma trinitas adalah sebagai berikut: ada kelompok yang cenderung ingin menghapuskan batas antara Allah dengan Kristus, dan ada kelompok yang begitu mencintai ilmu filsafat sehingga cenderung mengabaikan keesaan Allah dan ketuhanan Kristus, dan yang pada akhirnya Arius berupaya menyelamatkan keesaan Allah dengan menempatkan tokoh Kristus di luar Allah. Soal trinitas akhirnya diputuskan pada konsili-konsili Nicea pada tahun 325 M dan Konstantinopel tahun 381 M.

Pokok persoalan mengenai kristologi adalah bahwa dalam Alkitab dinyatakan dua hal mengenai Kristus (sebagai Tuhan dan manusia) yang tidak dapat disejajarkan secara logis. Sebelum adanya keputusan konsili chalcedon, ada beberapa pemikir yang membahas tentang hal ini; di antaranya yaitu: Nestorius dan Cyrillus. Nestorius mengabaikan bahwa Kristus benar-benar Allah sedangkan Cyrillus mengabaikan bahwa Kristus benar-benar manusia.

Mengenai hal ini ada beberapa aliran di dalam gereja. Ireaneus adalah salah satu pelopornya. Ia memperhatikan bahwa Kristus adalah Allah sepenuhnya. Teologinya bercorak sakramentalistis, yaitu bahwa anugerah Allah disalurkan melalui sakramen. Corak ini masih kita temukan dalam Gereja Katholik Roma. Dari corak ini juga terlihat bahwa Injil memang harus diungkapkan ke dalam bentuk yang diambil dari lingkungan di mana gereja hidup.

Pelopor lainnya ialah Origenes. Menurutnya Kristus berpangkat lebih rendah dari Allah Bapa. Pandangan Origenes mengenai Kristus sesuai dengan corak umum ajarannya yaitu bahwa Kristus adalah Logos (Firman) yang diperanakkan dari kekal oleh Allah Bapa. Logos ini sezat dengan Allah tetapi di lain pihak merupakan Allah yang kedua, dalam arti tertentu lebih rendah dari Allah.

Baik Irenaeus dan Origenes mengungkapkan iman Kristen dalam bentuk-bentuk yang diambil dari lingkungan Yunani-Romawi. Irenaeus memakai bentuk agama misteri sedangkan Origenes memakai bentuk-bentuk filsafat Yunani dan bentuk-bentuk gnostik. Pertikaian yang hebat antara pengikut-pengikut Irenaeus dan Origenes muncul sekitar tahun 315 M ketika penghambatan oleh kaisar Dioclenatius berhenti. Asas-asas Irenaeus dipertahankan oleh Athanasius sedangkan ajaran Origenes diperthankan oleh Arius. Akhirnya pada konsili Konstantinopel dicapai persetujuan tentang persoalan trinitas (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) adalah esa menurut keilahiannya.

Pertikaian tentang kristologi akhirnya ditetapkan pada konsili Chalcedon pada 451 M. Konsili ini mengakibatkan perpecahan dalam gereja Kristen yang berlangsung sampai sekarang. Gereja-gereja monofisit dan gereja Nestorian memisahkan diri dari gereja kekaisaran Romawi. Keputusan konsili ini hanya memuaskan partai menengah atau kelompok moderat dalam gereja. Kaum Nestorian memisahkan diri ke Persia dan di sana mendirikan gereja Nestorian. Kaum monofisit mendirikan gereja-gereja yang kuat di Mesir (gereja Koptik) dan Siria (gereja Yakobit). Akibat penghambatan kaisar demi kesatuan negara pada masa itu mengakibatkan oaring-orang Arab yang beragama Islam memasuki Siria dan Mesir sehingga mereka dianggap sebagai pembebas sehingga dengan mudah mereka merebut daerah tersebut.

 

p.s. Catatan ini masih ¼ bagian dari isi buku. Lebih jauh buku ini membahas tentang awal munculnya gereja Barat, pekabaran Injil sampai ke ujung Asia dan Eropa, hubungannya dengan Islam, reformasi gereja, dan tentang teologi dan kepercayaan abad pertengahan hingga munculnya aliran oikumene.

 


[1] kebudayaan Yunani dari zaman kejayaan Atena (abad ke-5 dan ke-4 SM) yang telah bercampur dengan unsure-unsur kebudayaan Asia Barat; misalnya keyakinan bahwa raja adalah anak dewa.

[2] gerakan yang ingin menghidupkan kembali pengharapan lama akan kedatangan Tuhan untuk yang kedua kalinya, karunia-karunia Roh, dan hukum disiplin gerejawi yang keras.

[3] sebuah desa di Asia Kecil

About little mind

just a little man struggling to be a great man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: